1. Permasalahan
pendidikan tingkat mikro
Tindakan kekerasan kepada murid yang dilakukan oleh
oknum guru tertentu sebagai pelampiasan kemarahan sering terjadi didalam kelas.
Baru-baru ini diwilayah Ambon tepatnya di SDN 86 seorang guru menganiaya
muridnya hingga pingsan menggunakan mistar panjang yang terbuat dari kayu saat
jam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Masalah keluarga yang sedang
dihadapi sang guru rupanya menjadi alasan tindak penganiayaan tersebut. ( sumber berita: www.siwalimanews.com_29 Agustus 2013)
Solusi : langkah
yang bisa dilakukan pihak sekolah pertama adalah mengklarifikasi masalah
tersebut kepada guru yang bersangkutan, apabila masalah tersebut benar adanya
pihak sekolah harus bertindak tegas kepada guru tersebut misalnya dengan
memindahkan guru pelaku aniaya ke sekolah lain. Selain itu sebaiknya guru
bertindak professional, apabila tidak sanggup untuk mengajar karena masalah
yang dihadapi, guru bisa meminta ijin secara baik-baik kepada kepala sekolah
untuk menenangkan pikirannya terlebih dahulu sebelum mengajar agar tidak
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti tindak kekerasan kepada murid
sebagai pelampiasan kemarahan.
2. Permasalahan
pendidikan tingkat messo
Sekolah di daerah terpencil mengenaskan. Di Indonesia,
pelayanan pendidikan khususnya untuk daerah-daerah terpencil masih minim.
Berbagai masalah yang menghambat proses pendidikan di suatu daerah masih sering
muncul. Sarana dan prasarana menjadi salah satu hambatan utama yang merintangi
berjalannya suatu proses pendidikan di daerah terpencil. Banyak daerah
terpencil di Indonesia yang sarana dan prasarana pendidikannya kurang maksimal,
seperti di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Kondisi pendidikan di pedalaman Kabupaten Yahukimo, Provinsi
Papua sangat memprihatinkan. Hampir semua fasilitas pendidikan rusak dan
pelayanan pendidikan tidak berjalan dengan baik karena guru-guru diangkat
menjadi pejabat pemerintahan. (sumber berita: majalahselangkah.com_26 Maret
2013)
Solusi :
1.
Pengawasan yang lebih intensif terhadap pendidikan di daerah
terpencil
2.
Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan yang masih minim
3. Memperbaiki kualitas guru dengan memberikan suport materi dan
motivasi secara personal, mengingat perjuangan seorang guru di daerah terpencil
lebih berat bila dibandingkan dengan guru di daerah perkotaan. Hal ini
bisa dilakuukan dengan penaikan gaji guru di daerah terpencil, serta seringnya
diadakan pertukaran guru antar daerah agar guru di daerah terpencil dapat
termotivasi semangatnya.
4.
Pengawasan terhadap berbagai jenis bantuan yang akan digunakan
untuk memperbaiki sarana dan prasarana, kualitas guru dan penunjang pendidikan
lainnya. Hal ini bisa direalisasikan dengan semangat otonomi daerah, sehingga
pengawasan pemerintah terhadap pendidikan di daerah-daerah terpencil lebih
optimal.
3. Permasalahan
pendidikan tingkat makro
Minat
baca dan mutu pendidikan Indonesia masih rendah
Deputi
Bidang Tumbuh Kembang Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak, Wahyu Hartomo mengatakan salah satu faktor penyebab rendahnya minat baca
karena terbatasnya jumlah perpustakaan di sekolah. Ini yang menyebabkan,
Indonesia berada di posisi 69 dari 127 negara menurut indeks pembangunan
pendidikan UNESCO. Bahkan dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih
memiliki minat baca tinggi. "Indeks membacanya hanya 0,001," kata
Wahyu (Republika.co.id_Sabtu, 08 Juni 2013)
Solusi :
Pihak
pemerintah :
1. Membangun dan memfasilitasi ruang
perpustakaan disetiap sekolah
2.
Membuat program khusus meningkatkan minat baca, seperti
contohnya program 'satu hati cerdaskan bangsa', merupakan program dari PT
Amerta Indah Otsuka sebagai rasa tanggung jawab secara sosial terhadap
masyarakat terutama siswa dan siswi di Indonesia. Mereka bertekad ingin giatkan
tradisi membaca pada anak-anak.
3.
Memerhatikan keadaan kelompok belajar di seluruh Indonesia.
Pihak
sekolah dan masyarakat :
1. Menambah
pelajaran muatan lokal seperti Pengembangan Penalaran Minat Baca (PPMB)
2. Mendirikan
perpustakaan daerah
3. Memperbanyak
perpustakaan keliling, sehingga masyarakat bisa dengan mudah
menjangkaunya.