Namanya Tari, dia seorang siswa kelas 2 di Sekolah Menengah Atas. Kesederhanaan dan kesopanan tingkah laku yang dia miliki membuatnya disegani teman-teman sebayanya. Pendiam dan tertutup adalah sisi lain pada diri Tari yang membuatnya jarang bergaul dengan temannya. Dia memang pribadi yang tak supel, tetapi bisa sangat akrab dengan seseorang yang dinilainya tepat.
Adaptasi yang sulit telah Tari
lewati dalam menjalani kisah kasih di sekolah. Hingga akhirnya dia menemukan
sosok Putri yang sekarang telah menjadi sahabat karibnya. Dua sejoli ini
tampaknya semakin hari semakin akrab saja, selalu pergi berdua ketika di
sekolah. Mereka adalah dua sejoli unik yang ternyata belum pernah merasakan
nikmatnya jatuh cinta. Mereka memang super sekali dalam menjaga perasaannya.
Sebulan telah berlalu di semester
satu awal kelas 2, tepatnya bulan Agustus para KKN-PPL dari sebuah Universitas
datang ke sekolah Tari. KKN-PPL pun turut andil dalam menjalankan tugas, yaitu
menjadi pengajar di kelas 1 dan 2. Saat itulah kali pertama Tari bertemu dengan
seseorang yang istimewa sebut saja Mr. X. Seorang mahasiswa yang sederhana,
supel, santai dalam berkomunikasi, sopan tutur katanya dialah Mr. X yang
akhirnya menanamkan virus merah jambu dihati Tari yang masih lugu. Rasa itu
ternyata semakin hari semakin tumbuh bergejolak, dengan keluguan pada dirinya,
Tari si gadis sederhana ini hanya bisa memendam rasa yang semakin membara
karena api cinta. Tari berusaha sekuat tenaga agar tak seorangpun mengetahui
rasa yang ada dalam hatinya, “biarlah hanya Allah dan aku saja yang tahu
tentang rasa ini (silent love)” janji Tari pada dirinya sendiri.
Hari-hari terasa begitu indah dan
istimewa dihati Tari, apalagi banyak kejadian-kejadian yang tak terduga yang
selalu membuat Tari berbunga-bunga. Entah kejadian didalam kelas saat Mr. X
mengajar maupun kejadian diluar kelas saat tak sengaja berpapasan dengan Mr. X
dijalan. Pernah suatu ketika saat pulang sekolah Tari sedang berjalan dengan
sahabat karibnya, tiba-tiba ada suara yang menyapa mereka berdua ditengah
bisingnya sepeda motor yang menderu.
“Assalamu’alaykum.” Sapa Mr. X
dengan senyum yang mengembang di wajahnya yang kemudian berlalu begitu saja
dengan motor bututnya.
Sontak Tari begitu kaget dan
tercengang ketika menyadari bahwa yang menyapa dirinya adalah Mr. X, setengah
tergugup Tari menjawabnya
“Wa’..alay..kum..salam…”
Hal-hal kecil inilah yang membuat
hati Tari semakin berbunga dalam menyambut cinta yang baru pertama kali dia rasakan.
Tari tak pernah melewatkan moment-moment indah seperti ini berlalu begitu saja,
karena setiap kali dia mengalami kejadian indah, Tari selalu menyempatkan untuk
menulisnya di buku diary.
Tak
disadari hari demi hari telah terlewati, dua bulan telah berlalu sejak pertama
kali Tari bertemu dengan Mr. X. Ternyata rasa yang hinggap dalam hatinya tak
mau menghilang, hingga akhirnya disuatu malam nan sunyi yang tak seorang pun
mengetahui, Tari terisak dalam tangis sembari mengadu kegundahan hatinya kepada
Sang Maha Pembola-balik Hati. Tak hanya sekali Tari menangis ketika mengadu
kepada Sang Pemilik Hati, hampir setiap malam dalam setiap sujudnya Tari selalu
berdoa agar rasa yang tumbuh dalam hatinya tak semakin merajalela.
Tibalah
saatnya bulan November, bulan perpisahan untuk KKN-PPL yang ada disekolah Tari.
Sehari itu Tari nampak murung dan tak bersemangat untuk mengikuti pelajaran di
sekolah.
“Tari
kenapa? Lagi sakitnya yaa? Putri anter ke UKS aja yuk?” Tanya Putri sambil
merengkuh pundak Tari.
“aku
baik-baik saja kok..” jawab Tari dengan nada datar sambil menelungkupkan
mukanya ke meja.
Yah,
sejak hari itu Tari menjadi semakin pendiam dan tertutup kepada semua temannya
tak terkecuali sahabat karibnya.
Tak
terasa bulan demi bulan cepat berlalu, sekarang Tari telah menjadi mahasiswi di
sebuah Universitas di Yogyakarta. Dua tahun sudah rasa itu masih tertanam kuat dalam
hati Tari. Entah mengapa perasaan terhadap Mr. X tak kunjung hilang dalam
relung hatinya, meskipun telah berbagai cara dia lakukan untuk menghilangkan
rasa itu.
Jodoh
sudah ada yang mengatur, tulang rusuk tak akan tertukar. Itulah sesuatu yang
kita yakini selama ini. Meskipun Tari tak tahu siapa yang akan menjadi
nahkodanya dalam mengarungi bahtera kehidupan, entah mengapa hati Tari tetap yakin
untuk selau menunggu kedatangan Mr. X. Tari selalu berharap bahwa suatu ketika
angin kan menyampaikan cintanya kepada Mr. X.
“My
heart is still waiting for you to open” goresan pena terakhir Tari untuk
mengenang kisah cinta pertamanya dalam buku diary.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar