Kamis, 29 Agustus 2013

CERPEN "My heart is still waiting for you to open"


              Namanya Tari, dia seorang siswa kelas 2 di Sekolah Menengah Atas. Kesederhanaan dan kesopanan tingkah laku yang dia miliki membuatnya disegani teman-teman sebayanya. Pendiam dan tertutup adalah sisi lain pada diri Tari yang membuatnya jarang bergaul dengan temannya. Dia memang pribadi yang tak supel, tetapi bisa sangat akrab dengan seseorang yang dinilainya tepat.
           Adaptasi yang sulit telah Tari lewati dalam menjalani kisah kasih di sekolah. Hingga akhirnya dia menemukan sosok Putri yang sekarang telah menjadi sahabat karibnya. Dua sejoli ini tampaknya semakin hari semakin akrab saja, selalu pergi berdua ketika di sekolah. Mereka adalah dua sejoli unik yang ternyata belum pernah merasakan nikmatnya jatuh cinta. Mereka memang super sekali dalam menjaga perasaannya.
            Sebulan telah berlalu di semester satu awal kelas 2, tepatnya bulan Agustus para KKN-PPL dari sebuah Universitas datang ke sekolah Tari. KKN-PPL pun turut andil dalam menjalankan tugas, yaitu menjadi pengajar di kelas 1 dan 2. Saat itulah kali pertama Tari bertemu dengan seseorang yang istimewa sebut saja Mr. X. Seorang mahasiswa yang sederhana, supel, santai dalam berkomunikasi, sopan tutur katanya dialah Mr. X yang akhirnya menanamkan virus merah jambu dihati Tari yang masih lugu. Rasa itu ternyata semakin hari semakin tumbuh bergejolak, dengan keluguan pada dirinya, Tari si gadis sederhana ini hanya bisa memendam rasa yang semakin membara karena api cinta. Tari berusaha sekuat tenaga agar tak seorangpun mengetahui rasa yang ada dalam hatinya, “biarlah hanya Allah dan aku saja yang tahu tentang rasa ini (silent love)” janji Tari pada dirinya sendiri.   
            Hari-hari terasa begitu indah dan istimewa dihati Tari, apalagi banyak kejadian-kejadian yang tak terduga yang selalu membuat Tari berbunga-bunga. Entah kejadian didalam kelas saat Mr. X mengajar maupun kejadian diluar kelas saat tak sengaja berpapasan dengan Mr. X dijalan. Pernah suatu ketika saat pulang sekolah Tari sedang berjalan dengan sahabat karibnya, tiba-tiba ada suara yang menyapa mereka berdua ditengah bisingnya  sepeda motor yang menderu.
            “Assalamu’alaykum.” Sapa Mr. X dengan senyum yang mengembang di wajahnya yang kemudian berlalu begitu saja dengan motor bututnya.
            Sontak Tari begitu kaget dan tercengang ketika menyadari bahwa yang menyapa dirinya adalah Mr. X, setengah tergugup Tari menjawabnya
            “Wa’..alay..kum..salam…”
            Hal-hal kecil inilah yang membuat hati Tari semakin berbunga dalam menyambut cinta yang baru pertama kali dia rasakan. Tari tak pernah melewatkan moment-moment indah seperti ini berlalu begitu saja, karena setiap kali dia mengalami kejadian indah, Tari selalu menyempatkan untuk menulisnya di buku diary.
Tak disadari hari demi hari telah terlewati, dua bulan telah berlalu sejak pertama kali Tari bertemu dengan Mr. X. Ternyata rasa yang hinggap dalam hatinya tak mau menghilang, hingga akhirnya disuatu malam nan sunyi yang tak seorang pun mengetahui, Tari terisak dalam tangis sembari mengadu kegundahan hatinya kepada Sang Maha Pembola-balik Hati. Tak hanya sekali Tari menangis ketika mengadu kepada Sang Pemilik Hati, hampir setiap malam dalam setiap sujudnya Tari selalu berdoa agar rasa yang tumbuh dalam hatinya tak semakin merajalela. 
Tibalah saatnya bulan November, bulan perpisahan untuk KKN-PPL yang ada disekolah Tari. Sehari itu Tari nampak murung dan tak bersemangat untuk mengikuti pelajaran di sekolah.
“Tari kenapa? Lagi sakitnya yaa? Putri anter ke UKS aja yuk?” Tanya Putri sambil merengkuh pundak Tari.
“aku baik-baik saja kok..” jawab Tari dengan nada datar sambil menelungkupkan mukanya ke meja.
Yah, sejak hari itu Tari menjadi semakin pendiam dan tertutup kepada semua temannya tak terkecuali sahabat karibnya.
Tak terasa bulan demi bulan cepat berlalu, sekarang Tari telah menjadi mahasiswi di sebuah Universitas di Yogyakarta. Dua tahun sudah rasa itu masih tertanam kuat dalam hati Tari. Entah mengapa perasaan terhadap Mr. X tak kunjung hilang dalam relung hatinya, meskipun telah berbagai cara dia lakukan untuk menghilangkan rasa itu.
Jodoh sudah ada yang mengatur, tulang rusuk tak akan tertukar. Itulah sesuatu yang kita yakini selama ini. Meskipun Tari tak tahu siapa yang akan menjadi nahkodanya dalam mengarungi bahtera kehidupan, entah mengapa hati Tari tetap yakin untuk selau menunggu kedatangan Mr. X. Tari selalu berharap bahwa suatu ketika angin kan menyampaikan cintanya kepada Mr. X.
“My heart is still waiting for you to open” goresan pena terakhir Tari untuk mengenang kisah cinta pertamanya dalam buku diary.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar