Minggu, 29 Juni 2014

Jadikan Hatimu Seluas Telaga


Jadikan Hatimu Seluas Telaga
Alkisah, pada suatu masa ada seorang pemuda yang sedang dirundung duka, penat, lelah dan hampa hidupnya. Air muka keruh dan langkah yang gontai mengantarkan pemuda itu untuk bertemu dengan orang bijak, seorang kakek tua.
Dalam bayang-bayang masalah dan himpitan kesulitan, sang pemuda menceritakan semua masalah yang membebani hidupnya. Si kakek menyimak dengan seksama. Usai pemuda berkeluh kesah, lalu si kakek memasukan garam kedalam sebuah gelas. “Coba minum ini, dan katakana bagaimana rasanya?” Kata si kakek. “Pahit, pahit sekali!” seru sang pemuda.
Si kakek tersenyum melihat ekspresi tamunya. Diajaknyalah pemuda itu ke telaga yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Sesampainya di tepi telaga, kembali si kakek menaburkan garam ke telaga. Lalu diaduklah air telaga dengan sebatang kayu. “Coba ambil air dari telaga ini, dan minumlah!”
Usai pemuda itu mereguk air telaga, si kakek bertanya, “Bagaimana rasanya?”
“Segar.” Jawab pemuda itu. “Apakah kamu merasakan garam di air itu?” Tanya si kakek lagi. “Tidak.” Jawab sang pemuda.
Si kakek dan pemuda itu duduk di tepi telaga. “Anak muda, dengarlah.” Kata si kakek, “Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah rasa pahit itu sama dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan semakin tergantung dari wadah yang kita miliki. Kapahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. “
Sang pemuda dengan seksama menyimak nasihat si kakek. Sebuah nasihat sederhana yang penuh dengan makna. “Hatimu, adalah wadah itu.” Lanjut kakek penuh tenang, “Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung seglanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Ada pelajaran dari kisah ini. ketika segenggam garam dimasukan kedalam gelas, beda rasa airnya dengan segenggam garam yang dimasukan kedalam telaga. Air dalam gelas tentu akan terasa sangat pahit dibanding air telaga. Pun demikian dengan hati dan masalah. Semakin besar hati, maka masalah yang dihadapi akan semakin ringan. Semoga Allah melapangkan hati kita, lebih luas dari telaga, dari laut dan dari samudera alam raya. Aamiin.. ^^
Rasulullah Saw bersabda, “Kekayaan itu bukanlah kekayaan pada banyaknya harta, tetapi kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa.” (H.R. Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar