Kamis, 18 Juli 2013

Makalah Sejarah Penemuan "Kembang Api"



KATA PENGANTAR
Kami panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah “Sejarah Penemuan Kembang Api” sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Sejarah dan Kepustakaan Kimia.
Banyak sekali hambatan dalam penyusunan makalah ini baik itu masalah waktu, sarana, dan lain-lain. Oleh sebab itu, selesainya makalah ini bukan semata-mata karena kemampuan kami saja, banyak pihak yang mendukung dan membantu kami. Dalam kesempatan ini kami selaku penyusun makalah mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang memberi kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan makalah ini.
Kami berharap makalah ini nantinya dapat berguna bagi para pembaca. Apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat lebih baik lagi.

Yogyakarta, 27 April 2013


Tim Penyusun.







DAFTAR ISI
Kata Pengantar ii
Daftar isi iii
Bab I   Pendahuluan  
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
Bab II  Pembahasan   
Sejarah Penemuan Kembang Api 3
Komposisi Unsur Kimia pada Kembang Api 5
Proses Pembuatan Kembang Api 7
Manfaat dan Kerugian Adanya Kembang Api 9
Bab III Penutup
Kesimpulan 12
Daftar Pustaka 13


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Kita menjumpai aksi kembang api hampir di setiap perayaan, baik di perayaan hari-hari besar agama, perayaan tahun baru ataupun di acara ulang tahun di kebun rumah. Mulai dari bentuk sparkler sampai fireworks bomb yang dimeriahkan dengan ledakan dan atraksi gradasi warna yang menghiasi langit. Dewasa ini, keberadaan kembang api tidak hanya sebagai pemeriah acara tetapi merupakan sebuah momentum yang wajib ada dalam sebuah perayaan, karena itulah inovasi demi inovasi selalu diciptakan demi terpenuhinya setiap permintaan.
Ketika kita menikmati kembang api, mungkin ada yang bertanya, bagaimana sejarah pembuatan dan apa penyusun dari kembang api tersebut, atau bahkan beberapa orang tidak mengetahui dan acuh terhadap dibalik keindahan kembang api, baik dari sejarah maupun penyusunya, apalagi seorang mahasiswa yang seharusnya mempunyai wawasan luas baik sekecil apapun harusnya diketahui sebagai salah satu parameter dari tingkat kepintaran mahasiswa.
Selain dipandang dari segi keilmuan, kembang api bias dipandang secara ekonomis, karena memang berbisnis kembang api sangat menjanjikan, dengan keindahan yang luar biasa peminat dari konsumen pelihat indahnya kembang api semakin banyak, sehingga pemenuhan permintaan dari konsumen sangat tinggi. Semakin tingginya permintaan kembang api ini kemudian berdampak semakin meningkatnya harga jual kembang api. Pada dasarnya, bahan baku kembang api tidak sulit dicari namun resiko pembuatan dan semakin rumitnya bentuk yang diinginkan menyebabkan harga kembang api bahkan mencapai jutaan rupiah.
Hampir semua bahan baku yang digunakan dalam pembuatan kembang api adalah bahan kimia yang kita kenal sehingga sebagai orang yang berkecimpung dalam ilmu kimia selayaknya kita bisa mengetahui bagaimana cara pembuatan kembang api. Kembang api selama ini telah dikenal masyarakat dan pembuatannya merambah ke hampir seluruh lapisan masyarakat baik dalam skala rumahan ataupun skala industri yang cukup besar, sehingga pengetahuan di lingkup ini mutlak diperlukan khususnya bagi mahasiswa kimia.
Tak hanya bahan kimia kembang api yang penting untuk diketahui, sejarah dari perkembangan kembang api juga penting, sejarah komposisi, dan awal mula dari munculnya kembang api sangat menarik.
B.     Rumusan masalah
                        Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut :
1.      Bagaimana sejarah penemuan kembang api?
2.      Bagaimana komposisi kimia kembang api?
3.      Bagaimana proses pembuatan kembang api?
4.      Bagaimana manfaat dan kerugian adanya kembang api?


















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Penemuan Kembang Api
Pada abad ke-10 sewaktu zaman yang disebut Five Dynasties and Ten Kingdoms (907-960) dimana Tiongkok dalam keadaan kalut setelah runtuhnya Dinasti Tang, Tiongkok terpecah belah, terjadi penggantian-penggantian satu kerajaan dengan yang lain dalam waktu kurang dari 60 tahun. Pada masa itu ada kejadian, suatu kecelakaan semagnitus “big bang” dalam laboratorium Guru Taois di Puri Zheng Yuan Miao Tao yang meledak seperti “meth lab” jaman sekarang. Tercatat bahwa “membakar campuran belirang dan karbit bisa meletus, dan menyebabkan tangan terbakar maupun menghanguskan bangunan rumah”.
Kejadian tersebut merupakan suatu kejadian besar di Tiongkok yaitu ditemukannya bahan peledak yang merupakan leluhurnya mesiu. Jika kebanyakan penemuan besar dalam zaman modern ini sering terjadi berhubungan dengan sesuatu kecelakaan, seperti Newton menemukan teori gaya tarik bumi karena kejatuhan buah apel dan Madam Curie menderita kebutaan mata karena perledakan dalam percobaannya untuk menemukan bahan radiasi Radium, tetapi amalgam belirang dan karbit tersebut bukanlah penemuan secara kebetulan. Jauh sebelumnya telah tercatat bahwa ramuan tersebut telah dipakai dalam berbagai penggunaan aneh di Tiongkok.
Sebagai contoh, pada abad 4-5 diwaktu Dinasti Jin Timur, ramuan tersebut pernah dicampur dengan getah pohon cemara dan lemak perut babi, dibuat pil berbentuk seputih es yang dianggap berkhasiat mengobati segala penyakit dan memperpanjang usia. Kemudian, pada abad ke-8 ada ahli yang bisa membuat bahan serupa korek api dari ramuan bubuk belirang dan karbit yang dibakar secara internal combustion. Ramuan tersebut diletakkan dalam satu tempurung yang ditanam dibawah tanah, dan kayu arang diletakkan diatasnya. Kemudian ramuan yang dibawah tanah tersebut dinyalakan dengan memasukkan sabun lemak yang menyala kedalam tempurung tersebut, dan sisa abu yang terbentuk dari campuran belirang, karbit dan sebagian arang itu dikumpulkan setelah dingin. Bahan ini bisa dipakai sebagai bibit api. Hal ini berdasarkan pengetahuan sifat pembakaran karbit yang telah banyak diteliti dan dicatat sejak abad 3 dalam zaman Sam Kok.
Kurang lebih tiga ratus tahun sebelum kejadian kecelakaan letusan diatas, pada awal Dinasty Tang, resep pembuatan bahan bakar yang berupa tawas juga dibuat oleh seorang tabib Sun Si-Miao (581-682) yang formulanya juga terdiri dari belirang, karbit, dan dicampur dengan sabun dari lemak yang telah dihanguskan. Berdasarkan hal tersebut, formula pembuatan bahan ledak yang pertama pada akhirnya dirumuskan oleh ahli pengolah Guru Taoist Qing Xu pada Dinasti Tang tahun 808 dalam pembuatan bibit api tawasnya yang diberi nama “ Rumus Rahasia Butir Mas Yang Maha Esa”, dasarnya terdiri dari campuran belirang, karbit dan bahan karbon yang kemudian di kenal sebagai mesiu hitam atau black powder. Nama China bagi bubuk hitam itu adalah ‘huo yao’ atau bahan kimia api.
Jika mesiu dimasukkan ke dalam sepotong bambu yang ada sumbunya, kemudian sumbu itu dibakar, maka mesiu itu akan meletus dan mengeluarkan suara ledakan keras. Petasan ini kemudian dipercaya dapat mengusir roh jahat. Kemudian petasan jenis ini dipakai juga pada perayaan pernikahan, kemenangan perang, peristiwa gerhana bulan, dan upacara-upacara keagamaan. Baru pada saat Dinasti Song (960-1279) masyarakat di China mendirikan pabrik petasan. Bahan baku tabung bambu kemudian diganti dengan gulungan kertas yang kemudian dibungkus kertas merah di bagian luarnya. Petasan ini kemudian menjadi dasar dari pembuatan kembang api, yang lebih menitik- beratkan pada warna-warni dan bentuk pijar- pijar api di udara.
Versi lain tentang asal mula kembang api menyebutkan bahwa kembang api tersebut ditemukan oleh bangsa India. Di wilayah ini memang tradisi penggunaan petasan dan kembang api sangat hidup untuk memeriahkan upacara pernikahan, acara keagamaan, upacara adat, dan sebagainya. Namun hingga kini Cina masih dikenal sebagai produsen utama kembang api. Wilayah Liu Yang menjadi pusat produksi kembang api di Cina.
Meskipun China dipercaya sebagai penemu, namun pembuatan kembang api berkembang pesat di Eropa. Banyak pihak percaya bahwa Marco Polo merupakan salah satu orang yang pernah ke China dan membawa penemuan ini ke kawasan Timur Tengah. Marco Polo membawa serbuk mesiu itu dari China ke Eropa pada abad ke-13. Selanjutnya, Tentara Salib Eropa membawa penemuan ke Inggris.
Pada masa kekuasaan Ratu Elizabeth I, kembang api banyak digunakan dalam upacara kerajaan. Sang ratu menyebut Raja James II sebagai raja kembang api. Meski menawarkan gemerlap, penggunaan kembang api juga menyimpan bahaya. Tragedi terbesar dalam sejarah penggunaan kembang api yang terjadi pada upacara pernikahan Raja Louis XVI dengan Antoinette pada 16 Mei 1770. Ledakan kembang api yang tak terkendali mengakibatkan kurang lebih 800 orang meninggal dunia.
Pada perkembangannya, para ahli kembang api akhirnya bisa membuat kembang api berwarna- warni, seperti merah, kuning, hijau, dan biru. Warna merah berasal dari strontium dan litium, warna kuning berasal dari natrium, warna hijau berasal dari barium, dan warna biru dari tembaga. Campuran bahan kimia itu dibentuk ke dalam kubus kecil-kecil yang disebut star. Star inilah yang menentukan warna dan bentuk bila kembang api itu meledak nantinya. Kumpulan star dimasukkan ke dalam silinder yang terbuat dari kertas atau plastik. Kemudian dimasukkan pula bubuk mesiu serta sumbu untuk menyalakannya.
Walaupun tidak ada bukti jelas tentang manusia penemu kembang api, masyarakat Cina punya kebiasaan untuk merayakan hari penghormatan kepada Biksu Li Tian. Tradisi ini dilangsungkan setiap tanggal 18 April. Warga Cina mempercayai bahwa Li Tian merupakan tokoh penting dalam penemuan kembang api.

B.     Komposisi Unsur Kimia Kembang Api
Terdapat 5 komposisi utama kembang api yaitu: Binder, Oksidator, Reduktor, Agen Pemberi Warna, dan Regulator. Fungsi masing-masing dijelaskan sebagai berikut:
Binder
Binder berfungsi untuk agen pengikat sehingga seluruh bahan pembuat kembang api dapat dijadikan campuran berbentuk pasta. Binder yang sering dipergunakan adalah dextrin.
Regulator
Logam biasanya ditambahkan untuk mengatur kecepatan terjadinya reaksi pada kembang api. Semakin besar luas permukaan logam maka semakin cepat reaksi akan berlangsung.
Fuel
Karbon atau thermit umumnya dipakai sebagai fuel pada kembang api. Fuel akan melepaskan elektron pada oksidator. Menyebabkan oksidator tereduksi, selama proses ini berlangsung maka akan terjadi ikatan antara fuel dan oksigen membentuk produk yang lebih stabil, peristiwa pembakaran ini hanya memerlukan sedikit energi agar reaksinya berlangsung, dan ketika proses pembakaran dimulai maka akan dihasilkan energi yang cukup banyak untuk melelehkan dan menguapkan material lain sehingga terjadi percikan api yang menyebabkan terbentuknya cahaya kembang api.

Oksidator
Oksidator diperlukan sebagai penghasil oksigen untuk memulai proses pembakaran. Bahan oksidator yang dipakai biasanya dari golongan nitrat, klorat, ataupun perklorat. Awalnya nitrat dipakai sebagai bahan oksidator dan senyawa yang sering dipakai adalah kalium nitrat. Penguraian kalium nitrat adalah sebagai berikut:
2 KNO3 -> K2O + N2 + 2.5 O2  
Tidak semua oksigen dari KNO3 diubah menjadi oksigen, dan reaksi berjalan tidak begitu ekstrim sehingga mudah di kontrol. Hal ini menyebabkan nitrat dipakai sebagai reaksi awal penyulutan kembang api agar kembang api sampai di angkasa. Untuk mendapatkan reaksi yang ekstrim (dalam arti kecepatan dan menghasilkan panas yang cukup) maka diperlukan oksidator yang lebih kuat dibandingkan nitrat. Ingat agar kembang api dapat menghasilkan kilatan cahaya maka kita harus membuat ion logam agen pemberi warna tereksitasi untuk itulah diperlukan suhu yang tinggi.
Klorat merupakan oksidator yang lebih baik dibandingkan dengan nirat, reaksi yang terjadi sangat ekplosif dan menghasilkan suhu yang tinggi selain itu semua oksigen dalam klorat dapat diubah menjadi oksigen. Memberikan oksigen dengan jumlah yang cukup untuk proses pembakaran pada kembang api.
2 KClO3 -> 2KCl + 3 O2
Sayangnya klorat tidak stabil dan diperlukan penanganan khusus dalam proses pembuatan kembang api, beberapa senyawa klorat dapat meledak ketika dijatuhkan ke tanah. Oleh sebab itu penggunaan klorat digantikan oleh perklorat. Perklorat sekarang banyak dipakai pada industri kembang api karena stabil dan bereaksi sama ekstrimnya dengan klorat.
KClO4 -> KCl + 2O2
Reduktor
Reduktor bereaksi dengan oksigen yang dihasilkan oleh oksidator membentuk gas yang bertemperatur tinggi dan mengembang dengan cepat. Reduktor yang dipakai biasanya adalah belerang dan karbon.
S + O2 -> SO2
C + O2 -> CO2
Warna kembang api dihasilkan dari pemanasan senyawa logam tertentu. Atom logam menyerap energi yang dihasilkan dari reaksi oksidator dan reduktor di atas dan kemudian dia melepaskan energi itu kembali dalam bentuk cahaya dengan warna tertentu. Energi yang diserap menyebabkan electron logam melompat dari tingkat energi standarnya ke tingkat energi yang lebih tinggi, dinamakan dengan istilah tereksitasi kemudian electron terebut kembali ke tingkat energi semula dengan membebaskan energi cahaya dengan panjang gelombang tertentu.
Berikut ini beberapa jenis atom (dalam bentuk senyawa kimia masing-masing) yang di gunakan untuk membuat warna-warna dalam kembang api, merah didapat dari garam stronsium atau garam lithium. Contohnya adalah litium karbonat Li2CO3 yang memberikan warna merah dan Stronsium karbonat yang memberikan warna merah cerah. Warna oranye didapat dari garam kalsium contohnya kalsium klorida CaCl2. Warna kuning didapat dari garam natrium contohnya natrium lorida NaCl. Warna hijau didapat dari garam barium atau senyawa yang dapat menghasilkan gas Cl2. Contoh garam bariumnya adalah BaCl2. Warna biru didapat dari senyawaan tembaga contohnya tembaga(I) klorida CuCl. Warna ungu didapat dari campuran antara garam stronsium dan garam tembaga. Karena stronsium memberikan warna merah dan tembaga memberikan warna biru maka campuran kedua garam ini akan menghasilkan warna ungu. Warna putih/silver didapat dari logam magnesium, titanium, ataupun aluminium.

C.    Proses Pembuatan Kembang Api
1.      Bahan dan Alat
Bahan-bahan :
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan Kembang api adalah sebagai berikut:
·      300 bagian Kalium klorat (KClO3)
·      60 bagian alumunium
·      20 bagian arang
·      10% larutan gula
·      500 bagian stronsium nitrat/ Sr(NO3)2 ( pilihan, untuk warna merah)
·      60 bagian barium nitrat/ Ba(NO3)2 (pilihan, untuk warna hijau)
·      Kertas karton tebal
·      Sumbu
Alat-alat :
Alat yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
·         Panci
·         Sendok stainless steel
·         Sarung tangan
·         Gunting
·         Lakban
·         Korek api
·         Neraca
·         Pulpen
Proses Pembuatan :
1.      Buatlah sebuah tabung dari kertas karton tebal , ukuran disesuaikan dengan selera.
2.      Campur semua bahan kering (Kalium klorat, alumunium, arang) di dalam panci, tambahkan larutan gula sehingga campuran tadi terlihat kental dan berbentuk pasta.
3.      Masukkan pembuat warna yang disukai seperti stronsium nitrat atau barium nitrat.
4.      Masukkan cairan ke dalam tabung dan tancapkan pulpen kosong ke tengah-tengah tabung. Biarkan selama 1 jam.
5.      Sesudah 1 jam, cabut pulpen tersebut dan masukkan sumbu. Sumbat bagian yang longgar dengan kapas.
6.      Bungkus tabung tersebut dengan Lakban hitam namun sisakan lubang pada tengah-tengah tabung pada bagian sumbu.

2.      Analisis
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan kembang api tentu memiliki fungsi tertentu. Fungsi dari bahan-bahan tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
1.      Kalium Klorat
Kalium klorat berfungsi sebagai pengoksidasi. Pengoksidasi menghasilkan oksigen untuk membakar campuran bahan.
2.      Alumunium
Alumunium digunakan untuk memproduksi nyala api berwarna silver dan putih. Alumunium adalah bahan penting dalam pembuatan kembang api.
3.      Arang
Arang adalah sumber karbon. Arang berfungsi sebagai agen pereduksi. Agen pereduksi digunakan untuk membakar oksigen yang dibentuk oleh pengoksidasi. Bahan ini dapat memproduksi gas panas.
4.      Dextrin/ larutan gula
Larutan gula berfungsi sebagai agen pengikat semua bahan.
5.      Stronsium Nitrat atau Barium Nitrat
Kedua senyawa ini digunakan untuk memberikan warna pada kembang api sehingga kembang api terlihat lebih menarik dan mempesona.
Kembang api terdiri dari berbagai bahan kimia yang dicampur. Bahan-bahan kimia ini tercampur dengan air untuk membentuk sebuah pasta yang kemudian dituangkan ke dalam tabung kertas yang telah disiapkan. Setelah campuran itu mengering, didapatkanlah sebuah kembang api. Alumunium, besi dan logam yang digunakan berfungsi untuk menciptakan nyala terang, berupa percikan terang. Bahan bakar dan pengoksidasi memiliki proporsi tersendiri sehingga kembang api terbakar perlahan, tidak meledak seperti kembang api petasan.
Kembang api terdiri dari beberapa hal, yaitu:
·         Pengoksidasi
·         Bahan bakar
·         Bahan pengikat yang mudah terbakar
Dalam penambahan komponen atau bahan-bahan, pewarna dan senyawa, reaksi kimia pasti terjadi. Biasanya, kembang api terdiri dari arang dan tembaga. Kembang api bisa menggunakan bahan ini sebagai pengikat bahan bakar. Bahan pengikat ini biasanya gula, starch, atau shellac. Kalium nitrat atau kalium klorat digunakan sebagai zat pengoksidasi. Bahan-bahan kembang api sangat mudah. Misalnya, sebuah kembang api hanya terdiri dari kalium perklorat, titanium atau alumunium, dan larutan gula.
D.    Manfaat dan Kerugian Adanya Kembang Api
Manfaat adanya kembang api antara lain :
1.      Upacara adat, upacara pernikahan, keagamaan
Di wilayah India tradisi penggunaan petasan dan kembang api sangat hidup, yaitu untuk memeriahkan upacara pernikahan, acara keagamaan, upacara adat, dan sebagainya.
2.      Perayaan hari-hari penting
Kembang api sudah seperti menjadi menu wajib bagi setiap peringatan hari-hari penting seperti perayaan tahun baru, lebaran, ramadhan, pernikahan, dan lain-lain. Gemerlap cahaya kembang api di langit malam kerap dianggap sebagai simbol kemeriahan, kebahagiaan, dan juga kemenangan. Kembang api menjadi tanda positif bagi kehidupan manusia. Keberadaannya memberi atmosfer ceria dalam setiap acara penting.
3.      Festival kembang api
Festival kembang api memang sangat menarik untuk dilihat. Namun, di Yanshui, Taiwan, ada festival kembang api yang lain. Kembang api tidak dilepaskan ke udara, tetapi dilepaskan ke kerumunan orang. Meskipun setiap peserta diharuskan memakai alat pelindung, tetap saja, lusinan orang menderita luka bakar atau cedera setiap tahun. Menurut cerita, perayaan ini bermula ketika kota kecil Yanshui dilanda wabah penyakit. Saat itu, pemimpin kuil meminta warga untuk menembakkan kembang api ke sebuah parade untuk menakut-nakuti roh jahat.
4.      Bisnis musiman
Salah satu contoh bisnis musiman adalah berjualan kembang api, tentu semua orang sudah familiar dengan kembang api. Kembang api identik dengan lebaran idul fitri dan tahun baru.
Di tahun baru dan lebaran banyak orang yang mengadakan pesta kembang api, hal ini dapat mendatangkan penghasilan yang lumayan bagi orang yang mau menjual kembang api pada saat itu.
Kerugian yang ditimbulkan akibat adanya kembang api :
1.      Pencemaran Lingkungan
Alison Tomlin dan rekan-rekannya di Universitas Leeds mengukur konsentrasi partikel-partikel yang dihasilkan dari perayaan api unggun dan kembang api. Dengan memasukkan data yang mereka peroleh ke sebuah model sederhana mereka menemukan bahwa pada puncak perayaan tersebut, udara berjelaga yang dihasilkan mengandung sekitar 10 kali lebih banyak partikel dibanding keadaan normal di siang hari.
Tomlin menunjukkan bahwa pembakaran tidak sempurna akibat api unggun dan kembang api yang terbuka, bisa mengarah pada peningkatan jumlah partikel berjelaga di atas konsentrasi sehari-hari di perkotaan. Imbas partikel-partikel ini terhadap kesehatan manusia dan lingkungan tergantung pada ukuran dan kandungan kimianya.
Partikel-partikel dalam penelitian ini cenderung lebih besar dibanding yang berasal dari emisi kendaraan tetapi masih cukup kecil untuk menyebabkan masalah-masalah kesehatan, seperti penyakit pernafasan dan kardiovaskuler. Disamping itu, partikel-partikel ini memiliki imbas yang lebih besar terhadap iklim karena masa tinggalnya di atmosfer yang lebih lama.
2.      Ledakan yang membahayakan
Meski menawarkan gemerlap, penggunaan kembang api juga menyimpan bahaya. Tragedi terbesar dalam sejarah penggunaan kembang api yang terjadi pada upacara pernikahan Raja Louis XVI dengan Antoinette pada 16 Mei 1770. Ledakan kembang api yang tak terkendali mengakibatkan kurang lebih 800 orang meninggal dunia. maka oleh karena itu dimohon untuk memperhatikan cara bermain kembang api yang tepat dan benar demi keamanan masing masing.
















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat dismpulkan bahwa :
1.      Kembang api ditemukan di China. Meskipun orang yang pertama kali menemukan kembang api belum diketahui, namun maasyarakat China mempercayai bahwa penemu kembang api adalah Li Tian.
2.      Terdapat 5 komposisi utama kembang api yaitu: Binder, Oksidator, Reduktor, Agen Pemberi Warna, dan Regulator.
3.      Cara membuat kembang api yaitu, langkah awal membuat sebuah tabung dari kertas karton tebal; mencampur semua bahan kering (Kalium klorat, alumunium, arang) di dalam panci, tambahkan larutan gula sehingga campuran tadi terlihat kental dan berbentuk pasta; memasukkan pembuat warna yang disukai seperti stronsium nitrat atau barium nitrat; memasukkan cairan ke dalam tabung dan tancapkan pulpen kosong ke tengah-tengah tabung. Biarkan selama 1 jam; setelah  1 jam, cabut pulpen tersebut dan masukkan sumbu. Sumbat bagian yang longgar dengan kapas; selanjutnya membungkus tabung tersebut dengan Lakban hitam namun sisakan lubang pada tengah-tengah tabung pada bagian sumbu.
4.      Manfaat kembang api antara lain untuk perayaan hari-hari penting upacara adat, keagamaan, upacara pernikahan, festival kembang api, bisnis musiman. Adapun kerugian yang dapat ditimbulkan oleh adanya kembang api yaitu pencemaran lingkungan, ledakan yang membahayakan.








DAFTAR PUSTAKA
Michael S. Russell. The Chemistry Of Fireworks 2nd Edition. Published by The Royal Society of Chemistry.
Thomas Graham House. 2009. Science Park.
Miton Road. 2009. Cambridge CB40WF, UK.
Chirtopher Cooper. 2000. Jendela Iptek Seri 4: Materi. Jakarta : PT Balai Pustaka
John A. Wickham, Jr.1988. Military Explosive. Headquarters Department Or The Army Washington, D.C.   
(diakses tgl 26 april 2013)
http://hongkong.panduanwisata.com/event-dan-festival/semaraknya-festival-kembang-api-di-tai-hang-hongkong/
http://winphann.blogspot.com/search/label/Kembang%20Api